Tampilkan postingan dengan label Fanfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fanfiction. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juni 2011

DON'T DO IT, BOMMIE


      Hello, saya kembali mengupdate blog ini dengan postingan FF saya yang baru setengah jadi. Tak bisa banyak yang saya posting. ini hanya sekedar untuk menyalurkan ide-ide yang sulit untuk disalurkan ke dalam gambar. ini couple favorit saya selain Chae-Ri Selamat membaca ^^


                
             CAST : - Park Bom as Bomie
                          - Choi Seung Hyun as Tabi
                          - Gong Minji as Minzy

             GENRE : horror, mystery



               “ARGH” terdengar suara rintihan seorang gadis di dalam ruang basket. Darah dari tangan kirinya tak kunjung berhenti, sedangkan tangan kanannya sedang memegangi cutter yang masih terlihat bekas darah segar di ujungnya. Bekas-bekas goresan benda tajam terlihat jelas di pergelangan tangannya. Mata gadis itu terpejam dan mengeluarkan sedikit air mata. Hanya dia yang dapat merasakan sakitnya ujung pisau menggores kulitnya
               
                PRANKK

                Cutter yang tadinya ada di genggaman gadis itu terjatuh ke lantai tak jauh dari tempat dia kini bersandar. Darah yang mengalir dari beberapa sayatan di tangannya berhasil membuat seragam putih gadis itu bersimbap darah.
                “AH” rintihnya kemudian tersungkur ke lantai

                TAP TAP TAP
                Seorang laki-laki muncul dari pintu, nafasanya yang memburu memenuhi ruangan itu. Matanya yang besar sedang mencari sesuatu, sampai dia melihat gadis itu tersungkur.

                “BOMMIE !!” teriaknya dengan mata yang membesar lebih dari sebelumnya. Sejurus kemudian dia langsung menggendong gadis yang bernama Bommie itu di punggungnya.

                “Ouch” rintih gadis yang mengenakan topi itu ketika tangan yang masih bersimbap darah di tarik oleh laki-laki itu.

                “Jangan sentuh, Tabi-san !” pekiknya dengan menarik kembali tangannya dan menendang nendang di udara.

                “Diamlah, kau cerewet sekali sih jadi cewek !”
                Dengan tatapan kesal akhirnya Bommie menuruti perkataan Tabi. Dia tertunduk lesu di gendongan Tabi. Kalau bukan Tabi, musuhnya, siapa yang akan menolongnya, pikir gadis berrambut panjang itu.


                ***

                Tabi membawa Bommie ke Ruang Kesehatan yang terletak di ujung sekolah. Doktor jaga dan Perawat sudah pulang sejak bel pulang berbunyi. Sekolah ini jarang ada murid yang sakit, begitu alasannya. Sekarang matahari sudah berada di ujung haluan, hanya ada mereka berdua dan beberapa anak yang mengikuti Latihan Olahraga untuk kejuaraan tingkat Nasional masih berada di ruang letihan mereka masing masing. Dengan telaten Tabi membersihkan darah di sekitar tangan gadis itu dengan alcohol dan kapas yang dia ambil di kotak P3K, kemudian dia membalutnya dengan telaten. Mata Bommie masih tertutup. Tak tampak lagi raut wajah kesal ataupun kesakitan, melainkan raut wajah yang tenang tergambar jelas. Hanya saja bibirnya yang pecah-pecah mengeluarkan sedikit darah di ujungnya.

                “BOMMIE !!” teriak seseorang dari luar ruang kesehatan itu. Tabi melonjak kaget. Dia segera berjalan keluar, melihat siapa yang memanggil gadis yang berasal dari America itu.

                “Tidak ada orang” bisiknya sambil menutup kembali pintu ruang kesehatan itu.

                “BOMMIE” kali ini suara lemas itu lebih keras terdengar. Tabi kembali membuka pintu ruang kesehatan itu kemudian menoleh kanan kiri koridor. Dari ambang pintu itu dia tak mendengar suara itu lagi

                “Sepi” katanya dengan tak menampakkan wajah ketakutan sedikitpun. Dia kembali menutup pintunya

                “Tabi-san..Tabi-san..Tabi-san..” Tabi berputar putar, dia seperti mendapat bisikan seorang gadis yang sedang ketakutan.

                “TABI-SAN !!” suara kali ini keras dan nyata. Namun, Tabi menutup kedua telinganya dan meringkuk ketakutan karena suara mengerikan itu menghantui pikirannya

                “Tabi-san ! Kau kenapa ?” Tanya seseorang yang berhasil menyadarkan Tabi. Dia mengangkat wajahnya dengan sedikit ketakutan.

                “HUH ! Kau rupanya !” suara Tabi agak gemetar. Dia berdiri. Seseorang berdiri tak jauh dari tempatnya sekarang berdiri.

                “Minzy, ada apa ?” Tanya Tabi dengan memaksakan senyum. Namun, wajah yang ketakutan tergambar jelas. Siswi yang memakai bed seragam sama seperti Tabi itu tersenyum lebar, memunculkan pipi chubynya.

                “Bommie, aku mencarinya kemana-mana tapi tidak menemukan. Apa kau lihat kakakku yang satu itu ?” Tanya Minzy dengan menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang.

                “Ya, dia ada bersamaku. Apa dia sering melakukan itu ?”

                Alis Minzy bertaut. Wajah Minzy tampak penasaran.

                “Apa ? jadi dia melakukannya lagi ?” teriak Minzy ketika Tabi menjelaskan panjang lebar pada adik Bomie yang satu ini. Tabi mengangguk. Kakinya bergelayut di udara, sedangkan Minzy mengelus-elus boneka coklat bertelinga panjang.

                “Dia suddah sering seperti itu sejak orang tua kami berpisah…” lanjut Minzy dengan menunduk lesu. Dia menyodorkan boneka coklat itu pada Tabi.

                “Ini Tam-Tam…Sejak 2 tahun lalu boneka inilah yang selalu mendengar cerita Bomie, dan Bomie tak pernah lagi menyayat tangannya lagi. Kalau kau lihat, di pergelangan tangan kanannya banyak bekas sayatan 3 tahun lalu, dan bekas bekas pukulan di lengannya”

                Tabi hendak mengambil Tam-tam dari tangan Minzy, namun gadis itu menariknya kembali.

“Bukankah ini boneka ..” Minzy langsung turun dari jendela besar itu. Dia berbalik menatap tabi dalam-dalam

             “YA! Ini boneka yang kau sembunyikan dari kakakku. Makanya Bommie jadi seperti ini sekarang. Dasar kau alien jelek !” Minzy menjulurkan lidahnya kea rah Tabi dan dia kembali masuk ke dalam ruang kesehatan.

                “Tabi-san..Tabi-san..Tabi-san..” suara yang sama sebelum Minzy tadi menegurnya. Dia turun dari jendela besar itu dan berlari menuju ruang kesehatan.

TBC ^^

Minggu, 17 April 2011

FF ONE SHOT "Lee, Stepsister" Lee Chae Rin and Lee Seung Hyun

Disclaimer : Theirself

ONE SHOT



Cast : Lee Seung Hyun    as Seung Ri
         Lee Chae Rin    as Seung Ri Stepsisters
         Gong Minji      as Minzy
         Sandara Park    as Minzy cousin -no dialog-
         Thunder         as Sandara Park Brother





                 


             Balkon apartemen, udara dingin menyelimuti kota tapi tidak untukku. Aroma alkohol masih  menusuk hidungku, walaupun aku meminumnya sudah 2 jam yang lalu tapi bau itu masih menyengat. Aku duduk di tepi kursi kayu tua. Ya, aku tak begitu kaya untuk membeli kursi balkon baru. Lagi-lagi aku terjebak dalam situasi seperti ini
“Kakak !” Seung Ri datang dan meletakkan secangkir teh di hadapanku dan tersenyum manja. Aku segera menepisnya dengan menggeser ke depannya. Dari sudut mataku, terlihat dia memanyunkan bibirnya dan memutar topinya. Ekspresi yang aku tunggu, tapi aku hanya diam menatap dengan tajam ke arahnya.
                “Aku ini adikmu, Chae Rin” katanya sambil menggeser cangkir itu kembali ke hadapanku lalu duduk di depanku. Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan yang tajam membuat dia tertunduk menutupi guratan di wajahnya.
                “Aku tau. apa kau mau kita berpelukan dan aku menangis lalu berkata ‘Aku ini kakakmu, Seung Ri’? Kau bisa bersikap dewasa ? Kalau ingin seperti itu kau cari saja kakak yang lain” tanyaku dengan ketus lalu berpaling kembali melihat lurus gedung gedung yang mulai berlomba menyalakan lampu pada malam hari.
                “Kakak. . .aku tau aku bukan adik kandungmu, tapi . . .” lanjutnya dengan tatapan innocentnya mengangkat satu alisnya
                “Seung Ri, bisakah kau tinggalkan aku sendiri ?” tanyaku padanya masih dengan tatapan tajam lalu bangkit dari kursiku dan meninggalkannya sendiri di balkon apartement kami.
                Aku masuk ke dalam, disusul oleh langkah Seung Ri yang lebih cepat dariku. Aku tak peduli. Aku terus berjalan masuk lalu mencari dimana kunci motorku ku letakkan. Aku terus mencari di rak, di lemari hingga kolong sofa tapi, tak ku temukan.
                “Kau mencari ini ?” tanya Seung Ri tersenyum lebar. Aku menoleh ke arahnya. Wajah tengil dengan senyum khasnya. Dia mengangkat tangannya, kunci motorku menggantung di jari telunjuknya.
                “Kakak, jangan pernah tinggalkan aku sendiri lagi. Seperti 1 tahun yang lalu” kata Seung Ri dengan matanya yang berbinar dan mencondongkan mukanya. Aku tak bisa melihatnya seperti itu, semakin sulit aku meninggalkannya. Aku langsung merebut kunci darinya dan segera keluar dari aparteman tanpa menoleh ke hadapannya.
                “Kalau begini aku susah untuk meninggalkanmu” gumamku sambil membanting pintu apartamen, terdengar dia berteriak histeris di susul dengan suara barang-barang berjatuhan.
                Aku menyusuri kota dengan motor putihku ini. Seperti biasa, aku harus bekerja malam. Bukan hal sulit untukku menjadi salah satu penyalur barang-barang ilegal. Itu caranya aku bisa mendapatkan uang dengan cepat untuk mengobati penyakit Seung Ri yang semakin parah. Dia bukan adik kandungku, tapi dia di adopsi ibuku sewaktu aku menginginkan adik laki-laki. Kupercepat lajuku menuju ke pelabuhan, kali ini aku bertugas mengatur penyelundupan barang barang dari luar negeri.


                ##
                Seung Ri POV
                Dimana kakak ? aku tak menemukannya di seluruh penjuru apartemen, apa dia tidak pulang tadi malam ? aish susuahnya punya kakak yang keras kepala separti dia. Baddest Female. Itu julukan yang pas untuk seorang kakak seperti di, tapi dia tak seperti itu. kalau dia “Baddest Female” bagaimana dia bisa menghidupi diribnya sendiri dan aku. Aku bangkit menuju dapur, menyiapkan sandwich lalu berangkat sekolah dengan naik bus. Ya, kebiasaan sejak ibu tak ada. Kakakku memang enggan untuk mengantarku, mungkin dia ingin aku mandiri.
                “Seung Ri” sapaan dari teman temanku selalu mengikuti langkahku menuju kelas. Aku hanya tersenyum tipis sebagai jawabannya.
                “Seung Ri, tunggu !!” seseorang berteriak dari belakang, suara sudah sangat aku kenal. Gong Minji. Tapi dia hanya mau dipanggil Minzy. Hahaha, mungkin karena terlalu kuno namanya ?
                “Ada apa Minzy ?” tanyaku menyunggingkan senyum lebarku saat Minzy menyamai langkahku.
“Seung Ri, kakakmu . . .” jawabnya dengan memegangi lututnya sambil mengatur nafasnya. Aku menunduk lalu memegang pundaknya.
                “Ada apa dengan kakak ku ?” tanyaku sambil menegakkan wajah Minzy lalu tersenyum tipis melihat dia ngos ngosan.
                “Bukan waktunya bercanda, bodoh !!! Dalam bahaya. Polisi sedang mencarinya. Mereka kira kakakmu terlibat kasus penculikan dan pembunuhan pengacara muda” Minzy berbisik dekat telingaku lalu menjitakku. Hanya dia yang tau siapa aku dan Chae Rin.
                “Dimana dia ?” tanyaku dengan meninggikan suara, tanpa sedikit senyum yang selalu ada di mulutku. Senyuman itu berubah dengan kepanikanku.
                “Dia ingin bertemu denganmu. Sekarang ada di gedung belakang sekolah” balasnya dengan wajah yang khawatir. Aku segera berlari untuk menuju gedung belakang sekolah, kuhiraukan bel masuk yang mengantarku keluar koridor sekolah.
                Tak membutuhkan waktu yang lama, aku sudah ada di dalam gedung bekas kebakaran dengan berlari. Aku tau dimana kakak berada. Di balkon atas, biasanya dia kesana kalau ingin menemuiku. Aku segera menaiki tangga, kulihat kakakku dengan langkah sempoyongan mendekatiku di tepi balkon.
                “Seung Ri, kau berlari lebih cepat sekarang” katanya sambil menepuk pundakku. Kulihat wajahnya yang pucat dan kantung mata yang besar.
                “Kakak, ada apa ?” tanyaku sambil menuntunnya duduk di tembok lalu merapikan poninya yang berantakan.
                “. . . .”
                “Kak !! Aku ini adikmu. Cerita padaku !!” seruku sambil memegang pundaknya yang lemas mengangkat kedua alisku ke atas dan ke bawah.
                “Aku harus kembali ke Jepang. Polisi mengincarku”
                “Tapi kau tak melakukannya kan ?”
                “Bodohnya aku menandatangani dalam keadaan mabuk. Tangaku terlalu suci untuk menculik dan membunuh seorang pengacara”
                “Siapa dia ? dimana dia sekarang ? biar aku yang menghajarnya !” tanya ku “Seperti ini, atau seperti ini” Aku mengepalkan tangan dan meninju di udara.
                “. . . .”
                “Kak, aku tak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya”
                “Benarkah ? Kalau begitu. . .ini” katanya sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan amplop coklat dan memberikannya untukku. Aku segera menerima dan membukanya.
                “Apa ini ?”
                “Itu uang, cukup untuk biaya hidupmu selama 3 tahun. Kau juga harus datang kerumah sakit setiap minggunya” katanya yang mulai bangkit dari duduknya. Aku segera menyusulnya.
                “. . .”
                “Sewa apartemen dan biaya rumah sakit sudah aku lunasi. Jadi tolong berobatlah ke rumah sakit, kalau kau masih ingin aku kembali”
                “Kakak . . .” kataku lirih sambil menutup amplop dan memberikannya pada kakakku tapi dia menolak dan memasukkan ke saku seragamku
                “Aku harus pergi sekarang”
                “Kakak ! Apa kau setega ini pada adikmu ? Baiklah aku tak akan bersikap manja lagi mulai saat ini. Jadi kau jangan pergi !”
                “Seung Ri, kalau kau benar laki-laki jangan lakukan itu” katanya yang mulai menaiki motornya dan mengegas. Aku berlari ke arahnya
                “Kakak ! Aku hanya punya kau !” kataku langsung mencium pipi kirinya dan memeluknya erat. Dia memainkan gas motornya. Perlahan tapi pasti laju motornya memaksaku untuk melepaskan pelukanku. Di balkon gedung untuk kedua kalinya. Aku tertunduk dan menjatuhkan diri ke lantai. Kulihat punggungnya yang menjauh dengan cepat bersama motor putihnya.
                “BODOH !!! tidak seharusnya membiarkan kakakku pergi sendirian !”


                ##
                2 Tahun kemudian. . .
                Aku masih merasakan sakit karena kejadian 2 tahun lalu. Chae Rin, entah dimana dia sekarang. Apa dia benar benar ke Jepang ? Pelaku penculikan yang dituduhkan pada kakakku sudah tertangkap oleh polisi, tanpa bantuanku. Entah dari mana bukti bukti menjurus ke teman lama kakakku itu bermunculan satu satu karena surat rahasia yang selalu kuterima sepulang sekolah
                “Seung Ri !! selamat ya, kau lulus dengan nilai terbaik !!” teriak seseorang dari kerumunan murid yang sedang memadati aula untuk merayakan kelulusan. Aku menoleh ke asal suara
                “Minzy. . .” gumamku melihat Minzy berhasil keluar dari kerumunan itu dan menghampiriku dengan seragam penuh dengan tepung dan telur. Ya, itu kebiasaan kalau merayakan lulus.
                “YA !! Seung Ri, selamat dapat nilai terbaik” katanya langsung menepuk punggungku. Aku tersenyum lebar.
                “Kau juga ! kulihat kau menjadi 5 besar” balasku menarik pipinya. Dia segera menepis tanganku dan kembali memasang wajah tegasnya.
                “Ayo kita ke gedung !!” ajaknya menarik kerahku membuat harus berjalan munduk mengikuti langkahnya.
                “Minzy untuk apa kita kesini ?” tanyaku heran saat sudah berdiri di balkon gedung di belakang sekolah kami. Tempat dimana pertemuan terakhirku dengan kakakku. Aku menerawang jauh, mengingat kejadian kejadian yang terputar kambali di memeori otakku. Walaupun aku sedikit lupa karena penyakitku yang menyebabkan aku menjadi lupa.
                “Ah. . .segar sekali daranya.” Serunya melihat ke atas sambil tiduran di tepi balkon, menekuk kakinya lalu tangan kanannya masuk ke saku sedangkan tangan kirinya menjadi alas untuk tidur.
                “Minzy. Ada apa denganmu ? bukankah kau takut ketinggian ?” tanyaku lalu tidur di sebelah Minzy
                “Aku ingin seperti ini. Aku akan ikut orang tuaku ke Jepang, jadi mungkin ini terakhir kali aku bersamamu, Seung Ri”
                “. . . .”
                “Seung Ri, kuharap kau bisa terus melanjutkan hidupmu dan tidak bergantung pada orang lain. Hilangkan sifat kekanak kanakanmu”
                “Ha ha ha. . .Jadi itu alasanmu membawa kesini. HUH !!” kataku sambil duduk melipat kakiku. “Aku sudah kehilangan kakakku, jangan sampai aku kehilangan kau, Minzy !!”
                “Kau ikut aku ke Jepang saja” kata Mini dengan yakin lalu duduk di sebelahku menyilakan kakinya.
                “Ah, aku ? tidak. Aku harus menunggu kakakku”
                “Kalian tidak mirip, kalau kalian menganggap saudara kenapa hubunganmu tidak baik dengan kakakmu ?”
                “YA ! entah, aku merasa ada yang dia sembunyikan dariku.”
                “Kau menyukainya ?”
                “Aku ? entahlah, aku bingung. Sudah lama aku mencarinya, tapi nihil. Bahkan aku sempat di kejar anjing karena memberontak masuk” Jawabku dengan sedikit tertawa mengingat kejadian waktu itu.


                ##


                “Aku mau masuk ! Tolong biarkan aku masuk !” rontaku dengan terus mencoba menerobos 2 orang bertubuh kekar di hadapanku. Bukan tanpa sebab, sepulang sekolah aku berpapasan orang yang mirip dengan kakakku. setelah berapa lama aku ikuti ternyata dia masuk ke dalam rumah mewah ini.
                “Kau ini masih kecil ! Tak boleh masuk”
                “Tapi tadi itu yang barusan masuk kakakku !”
                “Hey.. sudah banyak yang mengakui CL sebagai keluarganya.”
                “Tipuan apa lagi yang kau buat ? Lihatlah. Bahkan sama sekali kau tak mirip dengannya”
                “Tapi aku ini adiknya... namanya Lee Chae Rin, sedangkan aku Lee Seung Hyun !” aku segera menunjukkan Name Tag ku.
                “Aish.. dasar anak SMA ! Pakai cara halus tak bisa, kita pakai cara kasar” Mereka berpandangan sejenak dan mengeluarkan senyum evilnya.
                “Dogie !” aning besar berwarna hitam muncul dari balik pintu.
                GUK GUK GUK
                “HYA ! Pantatku !”



                ##
“Kurasa aku merindukanmu Tory" suara tak asing lagi bagiku, asalnya dari belakangku. Chae Rin, kakakku. Suara yang sudah lama tak terdengar tapi masih terekam rapi di telingaku. Aku menoleh diikuti senyuman dari Minzy. Dia berdiri dengan  Rambutnya sekarang berwarna kuning  dan sedikit berantakan dengan memakai jaket kulit. Aku tertegun melihatnya lalu bangkit dan berlari ke arahnya.


                “Kakak. . .” seruku sambil memeluk kakakku dan memutarnya di udara. "Wah ! Bahkan kau sekarang tidak berjerawat !"
                “Seung Ri ! aku juga mau di puter-puter kaya Chae Rin-eonnie!” teriak Minzy sambil menjewer kupingku. Aku hanya tersenyum lebar melihat keduanya.
                “Kemana saja, kakak ini !” tanyaku sambil merangkul pundaknya. dia melepas kacamata hitam yang dari tadi dia pakai.
                “Aku ? Di rumah saudaranya Minzy. Hahaha. . .”
                “Jadi yang ada di rumah itu....”
                "Ya, itu aku. Aku menyuruh mereka mengusirmu. kalau tidak kau akan menghancurkan rencanaku. Itu rumah sepupu Minzy, Sandara adalah teman SMA ku. Minzy berjanji akan menyembunyikannya darimu”
                “AAAA. . .Gong Minzy, kau harus membayarnya karena menyembunyikannya dariku” teriakku sambil menggelitiki Minzy.
                “Sudah Seung Ri, geli” katanya sambil melindungi dirinya di belik kakakku.
                “Bagaimana keadaanmu ? Sudah baik kan setelah di kemoterapi ?” tanya kakak menitak kepalaku.
                “Iya, tapi ingatanku akan berkurang” kataku menghentikan menggelitikki Minzy dan menunduk.
                “Kalau bagitu aku tak akan meninggalkanmu lagi, Seung Ri” kata kakak sambil merangkul lalu mengajakku untuk turun
                “Kalian ! selalu meninggalkanku !” teriak Minzy menjitak kepala kami berdua.

EPILOG

                 "KAKAK !" Seung Ri berteriak di belakangku, sepertinya dia benar benar penasaran denganku setelah bertabrakan di tangah jalan tadi. Kupercepat langkahku menuju rumah Dara, sahabatku. Rumahnya memang mewah, bersih. Setidaknya aku tak perlu mengeluarkan uang banyak untuk menyewa apartement. Orang tuanya mengijinkanku untuk tinggal disana, mungkin karena Dara hanya tinggal dengan adiknya bernama Thunder dan para pelayan dirumahnya.
             BRUK !
                Aku tersenyum kecut saat seseorang menabrakku.
                 "Ada apa mbak Chae Rin ?" tanya orang itu dengan sedikit menunduk. orang yang disampingnya juga terlihat menundukkan kepalanya.
                "Tolong akuu, jangan sampai dia masuk rumah Dara. Tolong kau usir dia" pintaku kepada orang yang sedang berdiri di depanku. bodyguard, ayah dara memang lebih memilih menyewa bodyguard daripada satpam. Bodyguard itu mengangguk, mengerti.
                "Apa itu adikmu yang sering kau ceritakan ?" tanya seseorang yang uncul di balik pintu pagar. dia adalah Thunder.
                "Iya, usianya juga tak jauh beda denganmu. tolong aku"
                "KYA ! KAKAK ! JANGAN BERJALAN SECEPAT ITU !" suara itu semakin mendekat. aku segera menerobos Bodyguard itu kemudian menarik tangan Thunder agar mengikutiku masuk.
                "KAKAK ! KENAPA MALAH MASUK !"
                aku melihat dari sela-sela taman di samping rmah Dara, Seung Ri sedang mencoba melewati 2 bodyguard itu.
               "Kau benar benar tega dengan adikmu sendiri, Ddokchae" kata Thunder tanpa melepas pandangannya ke arah Seung Ri. aku menoleh ke arahnya, meskipun anak itu benar-benar 'tertarik' dengan perlawanan Seung Ri.
               "Kalau aku tidak seperti ini dia akan selalu bergantung pada orang lain. dia harus sadar kalau usianya sudah 19 tahun"



                Ingatan, itu seharusnya menjadi sebuah buku yang terus terisi
                Itu juga yang membuat orang akan lebih dewasa
                Selain itu ingatan yang akan terhapus akan diganti oleh yang lain
                Tapi tidak tau untuk ingatan Seung Ri terhadapku, ataupun Minzy.
                Walaupun sebentar lagi ingatannya pasti akan hilang, namun Seung Ri benar-benar bersifat 'aegyo'
                Bahkan dia akan sulit untuk mengenali dirinya sendiri.
                Entah kapan aku juga akan lenyap bersama ingatannya dari kehidupan ini.
                Tapi, Seung Ri!! jangan meninggalkanku lagi, karena aku baru sadar aku menyayangimu lebih dari siapapun.
 Aniyo, bukan menyayangimu lagi tapi...




Bisakah kau menganggapku sebagai orang yang berarti di hidupmu ?

Jumat, 04 Februari 2011

USELESS GIRL VS ZOMBIE

USELESS GIRL chapter 1
INSPIRED - BLOODYMANDOO AT JUNGLE FISH 2
CARACTER - Disclaimer : himself


*Me as Namoo
*Member BIG BANG and Member 2NE1

*******

"yeah ! Kita menang !" teriak Bom sambil melompat senang saat bola terakhir sudah mengenai siswi yang menjadi lawan teamnya.

''Belum, Bom. Masih ada satu lagi'' kata Minzy sambil menunjuk Namoo lalu menepuk pundak Bom.

Namoo yang dari tadi menghindar di belakang teman temannya kini mulai kebingungan karena teman temannya sudah terkena bila semua, kecuali dia.

"baiklah ! Terima ini !" teriak Bom sambil mengambil kuda-kuda dengan bola di tangannya

1..2..3..

Bola melambung tinggi hinga mengenai wajah Namoo, siswi itu jatuh terlentang. Semua team Bom bersorak karena telah mengalahkan team adik kelasnya itu. Bom dan teman-temannya berjalan keluar lapangan, begitu juga dengan team kelas Namoo yang kecewa dan keluar lapangan.

Namoo memegangi hidungnya yang berdarah, dia mengusapnya dengan jari telunjuk lalu dia mengangkat jarinya di atas.

"BINGO !" seru Namoo sambil tersenyum lebar.

##
Seungri berjalan ke meja Namoo bersama teman barunya, Daesung. Tiba-tiba dia melepas kertas bertuliskan 'useless girl' dari punggung Namoo lalu duduk di depan Namoo diikuti dengan Daesung yang memilih duduk di sebelah Namoo.

"Useless Girl ?" tanya Seungri menyodorkan tempelan kertas itu. "Apa karena Dara sudah tak besekolah disini lagi ?"

Dulu saat SMP Dara, Seungri, Chae Rin, Jiyong dan Namoo memang bersahabat. Kemana mana selalu bersama, tapi itu terpisah karena SMA berbeda beda. Hanya Jiyong yang tak mau masuk SMA karena dia tak ingin memotong rambutnya.

Daesung mengangguk, "Kau pasti kesepian tak ada Dara" katanya sambil menepuk punggung Namoo.

Namoo masih melahap sup rumput laut kesukaannya yang menjadi menu siang ini.

"Mungkin mereka menyukaiku dan ingin berteman denganku" jawab Namoo tanpa menghentikan melahap sup itu.

"Hanya ada dua pilihan mereka menyukai seseorang. Innocent or Sexy. Dan kau tak masuk keduanya" celetuk Daesung sambil menjepitkan sumpitnya pada daging panggang, menunya siang ini.

"Kau harus menjadi wanita" lanjutnya.
Seungri masih mendengarkan Daesung berbicara sambil memakan menunya.

"Sejak Zombie lahir aku sudah menjadi wanita" balas Namoo.

"Hentikan cerita zombie mu itu, Ahn Namoo" kata Daesung sambil menepuk pundak Namoo.

******
Seorang siswa berjalan di koridor sekitar kelasnya dengan posisi tangan dimasukkan di kedua saku jas seragamnya. Mulut bawahnya bergerak mengikuti setiap alunan lagu yang terdengar dari earphonenya.

Dia merasa ada yang mengikutinya sejak keluar kelas tadi, dia menoleh ke belakang namun tak menemukan seorangpun. Dia mempercepat langkah menuju gerbamg sekolah. Tanpa sepengetahuannya langkahnya diikuti oleh langkah orang lain yang tidak lain adalah Namoo.
Siswa itu masuk di sebuah game center. Namoo masih mengikutinya dengan mengendap-endap.
game center hanya ada beberapa orang disitu.

''Tabi ! Kesinilah'' panggil seseorang sambil mengangkat tangannya, siswa itu menghampirinya.

"Jiyong ? Kau ada disini juga ?" tanya siswa yang bernama Tabi itu sambil duduk di sebelah Jiyong.

"Aku bekerja di sini kalau siang hari" jawab Jiyong. Mereka tak menyadari kehadiran Namoo yan membelakangi mereka.

"Kenapa kau tak pulang dulu ?" tanya Jiyong.

"Aku diikuti seseorang. Dia selalu mengirimkan pesan lewat chat ponselku"

"mungkin dia menyukaimu"

"aku hanya menyukai wanita yang lebih tua dariku"

"Mana lihat?" Jiyong penasaran, Tabi memberikan ponselnya pada Jiyong.

Jiyong membaca pesan chatnya dengan seksama.

"Kata-kata ini seperti pernah membacanya" kata Jiyong. "Nomor dan nama IDnya juga aku mengenalnya"
Tabi mengerutkan keningnya, mencoba mendapat informasi dari teman kecilnya itu. Namoo mendengar semua, dengan perlahan dia mengendap-endap keluar dari game center itu.

******
Malam itu juga Namoo membuntuti Tabi. Tabi sudah ada di dalam club dengan berbincang dengan wanita di meja, sepertinya mereka sedang bertukar nomor ponsel karena terlihat Tabi yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya.
Namoo mengintipnya dari tembok ujung ruangan. Tak lama kemudian Tabi turun di lantai dansa bersama kedua teman wanitanya, dia bertemu Jiyong di lantai dansa itu. Namoo melihat Jiyong.

''Sedang apa Jiyong disini'' gumamnya sambil mengendap-endap ke meja Tabi.

Dia mengambil ponsel Tabi yang ada di mejanya, dia mengedarkan pandangannya ke arah Tabi. Takut kalau ketahuan. Tapi matanya tertuju pada seorang wanita yang naik di panggung DJ, sepertinya dia menggantikan DJ yang memintanya naik.
Namoo melangkah ke samping panggung dan berdecak kagum pada wanita itu.

"Chae Rin, kau keluar dari cita-citamu. Apa jadi DJ bisa menyetir pesawat ?" tanya Namoo pada dirinany sendiri. Lama Namoo melihat Chae Rin beraksi meggerakkan piringan hitamnya.

Tabi kembali dari lantai dansa, dia ingin mengambil ponselnya namun takada di mejanya lagi.

"terakhir aku taruh disini" kata Tabi pada dirinya sendiri, dia melihat sekitar dan menemukan sosok yang tak asing lagi untuk dirinya.
Sosok itu membelakangi Tabi tak lain adalah Namoo.

Jumat, 17 Desember 2010

WITH 2NE1 AND BIG BANG

One day in December to cool down because of snow fell at the end of the year. Everyone would feel happy because the new year is coming.
BAM !!
"ouch ..."
"morning all ! I would invite you to sky in the morning. Ready ?" Chae Rin came with a thick dres, she also carries ski equipment are in place at the front door. G-Dragon smiled with delight. Then he pulled his hand Daesung, Seung Ri, Seung Hyun, and Taeyang to wake up from sleep and want to follow him skiing in the mountains.

"Hurry up !! We'll be late skiing !" G-Dragon shouted right in their ears. Daesung beat feet back G-Dragon with his pillow and pulled the blanket. They slept in the living room. Taeyang and Seung Hyun rising at delicious smell of cooking in the kitchen. Park Bom cooking in the kitchen.
"Yummy" Taeyang stood up and walked toward the kitchen.
"wow...very nice smell" Seung Hyun followed him from behind.


G-Dragon took Chae Rin playing PlayStation Move in the living room. Minzy shoot Daesung and Seung Ri with water pistol to their faces. Daesung and Seung Ri awake, after learning Minzy that squirt water into their faces Minzy immidiately ran to the living room.

"Minzy ! You get in our way" Said G-Dragon when Minzy blocking a television screen.

Daesung and Seung Ri take a water pistol on the table.

"Hey ! Stop or I'll break your hand" said Minzy while proteting his face from the water spray

Sandara walked up to me and sat beside me while eating lollipop candy.

"You dont pack up ? We will go to the mountain"
"really Sandara ? Well I will soon be packing"
"Chae Rin and G-Dragon who took Big Bang, 2NE1 and you"


I move the notebook to the front Sandara. Then I looked around, Taeyang and Seung Hyun is fighting over food that has just Park Bom cook. Daesung and Seung Ri shot Minzy with water pistols and G-Dragon upset because he lost Chae Rin, and Chae Rin shout happy because all this time playing the PlayStation Move with the new G-Dragon this time she won
Sandara screaming with pleasure as her e-mail in reply with her brother.

I walked upstairs to packing, but suddenly threw Daesung used beverage cans into my head.

"DAESUNG !!!!" I yell. Everybody look at me, including Seung Hyun and Taeyang are fighting over food made in Park Bom.

Daesung just smiled. All turned into darkness, when I opened my eyes I saw the face of Daesung turned into my mother face is horrible.

SLOSHHHH !!! I washed water
my mother face was there right on top of me.

"quickly got up and immediately take a bath. Do you want to be late to go the school ?" my mother pulling my hand to get up
"Who Daesung ? You woke up screaming when his name. What he was member of the Big Bang ?" my mother pointed to a big poster on my bedroom wall and aimed at Daesung face.

I pinched my cheek with the firm. Right. That was dream. ARGHHHH SKI IN THE MOUNTAINS !!!!